BERITA UIN
Umrah Nuzulul Quran Momentum Rekoneksi Diri

UINSGD.AC.ID (Humas) — Perjalan umrah yang bertepatan dengan momentum Nuzulul Quran, sejatinya menjadi momentum berharga bagi para Jemaah untuk melakukan inner journey, yakni perjalan ke dalam diri. Pada perjalan ini, dengan jujur siapapun melakukan introspeksi diri, “sudah seberapa kuat diri ini terkoneksi dengan spirit turunnya Al-Quran ke muka bumi?.
Dalam nuzulnya ke bumi, kehadiran Al-Quran jelas memiliki visi dan orientasi. Ada tiga pendekatan yang bisa digunakan untuk mengetahuinya. Pertama, bisa diketahui berdasarkan pembacaan terhadap latar belakang historis mengapa Al-Quran turun. Kedua, berdasarkan pembicaraan al-Quran sendiri. Ketiga berdasarkan analisa seksama terhadap isi kandungan Al-Quran.
Bila dikaji berdasarkan pembacaan terhadap latar historisnya, visi dan orientasi turunnya adalah sebagai kritik dan oto-kritik atas diesequiblirium, yakni ketidak seimbangan masyarakat Mekah dalam berbagai dimensi kehidupannya. Baik dimensi ketuhanan, sosial, ekonomi, politik, budaya, danyang lainnya.
Atas ketidak seimbangan itu, turunlah ayat-ayat Makiah yang berisi kritik sekaligus oto-krtik, dimana di dalamnya berisi kerangka etis dan pedoman moral bagi terciptanya tatanan hidup yang equiblirium (seimbang).
Bila dikaji berdasarkan informasi Al-Quran sendiri, visi dan orientasi turunnya Al-Quran bisa dilihat diantaranya pada Qs. Al-Baqarah ayat 185. Berdasarkan ayat ini, ada tiga visi dan orientasi turunnya Al-Qu’an; (a) hudan, yakni sistem petunjuk bagi tatanan kehidupan manusia. (b) al-bayyinat, sistem penjelas atas sejumlah fenomena kehidupan manusia. (c) al-furqon, kriterium pembeda antara yang benar dengan yang salah.
Dalam Qs. Al-Isra ayat 82 ada dua fungsi nuzul al-Quran; (a) Syifa, yakni obat penawar atas sejumlah derita psikologis ummat manusia, ketika hidupnya dihadapkan pada kesenjangan antara asa dan realita. (b) rahmat, yakni inspirasi bagi kebahagiaan dan kemenangan perjuangan ummat pada semua pojok kehidupannya. Sedangkan bila dilihat berdasarkan Qs.Al-Hijr ayat 9, visi dan orientasi turun Al-Quran adalah sebagai al-dzikr, sistem kendali diri demi terciptanya tatanan kehidupan yang terkendali.
Bila dilihat berdasarkan analisa seksama atas substansi atau isi kandungan Al-Quran. Maka ada tiga visi dan orientasi turunnya Al-Quran, yakni untuk membangun kesolehan individual (khairul ummah, personal morality), kesolehan sosial (khairul ummah, public morality), dan kesolehan institutional (institutional morality).
Dalam bingkai tiga pendekatan tadi, perjalan umrah nuzul al-quran adalah momentum untuk membangun rekoneksi diri dengan Al-Quran. Dalam spirit latar historis, upaya rekoneksi bisa dimulai dengan melakukan kritik terhadap sejumlah ketidak seimbangan hidup, baik pada level pribadi, antar pribadi maupun institusi.
Perilaku materialistik, gaya hidup hedonistik, pendidikan yang kapitalistik, sistem ekonomi dengan hegemoni ribawi, realitas sosial yang deviasi, agama yang kadang dikomersialisasi dan dikomodifikasi, korupsi yang semakin menjadi, adalah sederet fakta tentang ketidak seimbangan kehidupan kini.
Kegiatan kritik dalam spirit rekoneksi dengan Al-Quran, tentu tidak identik dengan mencari-cari kesalahan, tetapi mencoba menempatkan ragam ketidakseimbangan pada forsi dan posisinya.
Setelah itu kemudian dicari solusi untuk kemudian dientaskan. Dan dalam spirit mengentaskan ragam persoalan ketidak seimbangan hidup itu, telah diyakinkan Allah, bahwa pada Al-Quran akan ditemukan sejumah jawabannya.
Proses koneksi dan rekoneksi dengan Al-Qur’an hanya mungkin dilakukan apabila kita berada pada lingkaran ahlul quran, yakni komunitas masyarakat yang intensif melakukan interaksi dengan Al-Quran. Semoga.
Aang Ridwan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Berita Lainnya
-
-
-
Rektor: Momentum Kembali ke Fitrah dan Persatuan
31 March 2025 -
Saatnya Mudik Lahir Batin
30 March 2025 -