BERITA UIN
Ramadhan Bulan Kesabaran

UINSGD.AC.ID (Humas) — Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum pembentukan karakter bangsa. Dalam konteks pendidikan, puasa melatih kesabaran, disiplin, dan ketahanan mental, nilai-nilai yang menjadi fondasi penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan era Society 5.0.
Nabi Muhammad saw. menyebut Ramadhan sebagai bulan kesabaran, di mana puasa menjadi bentuk latihan pengendalian diri yang luar biasa (HR. Tirmidzi). Namun, di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan persaingan global, banyak generasi muda yang menghadapi kesulitan dalam menumbuhkan karakter ini.
Dalam dunia pendidikan, masih terdapat kesenjangan (GAP) antara pembelajaran akademik dengan pembentukan karakter. Banyak siswa dan mahasiswa berfokus pada pencapaian akademik semata, tetapi kurang dalam aspek ketahanan mental dan pengelolaan emosi. Oleh karena itu, penting untuk menggali makna Ramadhan sebagai ajang pembentukan karakter unggul, sehingga generasi muda dapat menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan kesiapan mental dan intelektual yang matang.
Mari kita elaborasi satu per satu:
Pertama, Menanamkan Kesabaran sebagai Ketahanan Mental
Salah satu tantangan besar di era digital adalah tekanan akademik dan sosial yang semakin meningkat. Banyak pelajar dan mahasiswa yang mengalami stres akibat tuntutan belajar, perubahan teknologi, dan persaingan global. Dalam konteks ini, kesabaran menjadi kunci ketahanan mental. Berpuasa mengajarkan bagaimana seseorang mengelola emosi, menahan diri dari keinginan sesaat, dan tetap fokus dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Sebagai contoh, banyak siswa mengalami kegagalan dalam ujian atau tugas akademik. Mereka yang memiliki mental tangguh dan kesabaran akan lebih mampu bangkit, mengevaluasi diri, dan memperbaiki strategi belajar. Sementara itu, mereka yang kurang sabar cenderung mengalami kecemasan berlebih dan mudah menyerah. Dengan demikian, puasa menjadi latihan yang relevan dalam membentuk pribadi yang kuat menghadapi tantangan kehidupan.
Kedua, Puasa Ramadhan sebagai Latihan Disiplin dan Konsistensi
Menjalankan ibadah puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga disiplin dan konsistensi. Di era Society 5.0, disiplin menjadi keterampilan penting dalam mengelola waktu, membangun kebiasaan positif, dan menghadapi tantangan industri berbasis teknologi.
Dalam dunia pendidikan, siswa dan mahasiswa sering kali menghadapi kesulitan dalam mengatur waktu belajar, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan menjaga produktivitas. Puasa mengajarkan bagaimana seseorang berkomitmen terhadap aturan waktu, seperti sahur, berbuka, dan ibadah lainnya, yang secara tidak langsung melatih kedisiplinan. Jika pola ini diterapkan dalam kehidupan akademik dan profesional, maka generasi muda akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
Ketiga, Sikap Tenang dalam Menghadapi Tantangan
Era 5.0 membawa berbagai perubahan yang cepat dan dinamis. Disrupsi teknologi, perubahan pola kerja, dan tantangan global menuntut sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya tahan tinggi dan kemampuan berpikir strategis. Salah satu kunci utama untuk menghadapi kondisi ini adalah kesabaran.
Sikap tenang dan sabar dalam menghadapi masalah akan melahirkan solusi yang lebih efektif. Sebaliknya, ketergesa-gesaan sering kali menghasilkan keputusan yang kurang tepat. Dalam dunia bisnis dan kewirausahaan, misalnya, pengusaha yang sabar dalam membangun usahanya memiliki peluang lebih besar untuk sukses dibandingkan mereka yang ingin hasil instan.
Puasa Ramadan melatih seseorang untuk tetap tenang dalam menghadapi kesulitan, menahan emosi negatif, dan berpikir dengan jernih. Oleh karena itu, pembiasaan sikap sabar selama Ramadhan dapat menjadi bekal berharga bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan global dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Bulan Ramadhan merupakan momen yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kesabaran, disiplin, dan ketahanan mental dalam pendidikan karakter bangsa. Dalam menghadapi era 5.0 dan menuju Indonesia Emas 2045, generasi muda harus memiliki kesiapan mental dan karakter unggul agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Sebagai rekomendasi, institusi pendidikan dapat memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam kurikulum pembelajaran, baik melalui program mentoring, pelatihan manajemen emosi, maupun diskusi reflektif tentang pentingnya kesabaran dan disiplin dalam mencapai kesuksesan. Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya menjadi ibadah spiritual, tetapi juga sarana strategis dalam membentuk karakter unggul bagi masa depan bangsa.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Berita Lainnya
-
-
-
Rektor: Momentum Kembali ke Fitrah dan Persatuan
31 March 2025 -
Saatnya Mudik Lahir Batin
30 March 2025 -