BERITA UIN

Gerakan Nasional Literasi Qur’an: Pentingnya Platform Digital dalam Dakwah

12 March 2025 Oleh Redaksi
featured image

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dirjen Pendidikan Islam Suyitno menegaskan komitmennya dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an di Indonesia. Hal ini disampaikan saat memberi sambutan pada launching Gerakan Nasional Literasi Qur’an (GNLQ) dengan tajuk “Tahun Membaca Al-Qur’an”.

Helat ini berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi Kemenag RI, Jakarta Pusat. Suyitno menyoroti perkembangan metode pembelajaran Al-Qur’an dari masa ke masa dan pentingnya gerakan literasi untuk semua generasi.

Menurutnya, pada 1980-an, metode pembelajaran Al-Qur’an masih menggunakan sistem yang kaku. Sehingga, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan juz ‘amma. Namun, hadirnya metode Iqro’ membawa perubahan signifikan. “Tiba-tiba ada generasi Iqro yang super cepat, hanya dalam hitungan bulan orang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik,” ujar Suyitno dalam keterangannya, Rabu (12/3/2025).

Seiring perkembangan zaman, metode pengajaran semakin berkembang dengan adanya pelatihan bagi para guru ngaji. Hasilnya, generasi muda saat ini dapat membaca Al-Qur’an lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya. Meskipun kemampuan membaca meningkat, pemahaman terhadap isi Al-Qur’an masih menjadi tantangan besar.

Hasil riset yang dilakukan oleh Balitbang menunjukkan bahwa tingkat literasi membaca Al-Qur’an di Indonesia mencapai 61,58%, sedangkan literasi menulis berada di angka 52,88%. “Kita masih memiliki PR besar, ada sekitar 39% yang perlu menjadi sasaran literasi membaca dan 47% untuk literasi menulis,” ungkapnya.

Suyitno menyoroti pentingnya literasi digital dalam penyebaran Al-Qur’an. Dengan 221 juta jiwa penduduk Indonesia, sebanyak 197 juta orang merupakan pengguna aktif media sosial, seperti TikTok dan YouTube. Ia menekankan perlunya memanfaatkan platform digital untuk dakwah dan penyebaran Al-Qur’an.

“Kalau dakwah masih berbasis konvensional, jangkauannya terbatas. Tapi kalau kita gunakan media sosial, dakwah bisa lintas bangsa, lintas suku, dan lintas negara,” tambahnya.

Sebagai langkah strategis, pemerintah mendorong pengembangan aplikasi Al-Qur’an digital dalam berbagai bahasa daerah agar lebih kontekstual dan mudah diakses oleh masyarakat. Ia juga menyoroti pentingnya literasi bagi generasi senior, terutama dalam meningkatkan pemahaman dan bacaan shalat mereka. “Kalau di atas 50 tahun masih belum bisa baca Al-Qur’an, ini adalah PR besar yang harus kita selesaikan,” ujarnya.

Dengan adanya Gerakan Nasional Literasi Al-Qur’an, diharapkan semua lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga lanjut usia, dapat lebih mudah mengakses dan memahami Al-Qur’an. Pemerintah akan terus mengembangkan berbagai metode dan media agar literasi Al-Qur’an semakin luas dan efektif dalam masyarakat.

Hadir dalam acara ini Kasubdit Pendidikan Al Quran, Aziz Syafiuddin, Inisiator Gerakan Nasional Literasi Qur’an (GNLQ) Romzi Ahmad, Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Qur’an (GNLQ) Dr. Nur Millah Muthohharoh, Perwakilan Baznas dan Laz serta Aktivis Literasi Qur’an.


Dark Mode NEW
Adjust the appearance to reduce glare and give your eyes a break.